Labkom Kenalkan Software Open Source

Gilang Kencana- Ada yang berbeda dengan tampilan layar komputer di Laboratorium Komputer (Labkom) STEI Tazkia. Jika sebelumnya user (pengguna) Labkom  terbiasa dengan program Windows dengan layar khasnya, sekarang tidak ada lagi. Pasalnya sejak awal tahun akademik 2008-2009, pihak Labkom mulai memperkenalkan software Open Source, Subuntu Keturunan Ubuntu berbasis XWindows.

Staf IT Labkom, Nurul A’dhom mengatakan langkah ini ditempuh untuk memperkenalkan salah satu software dari Linux ini kepada mahasiswa yang bisa diunduh secara gratis dan lebih tahan virus. “Kelebihan lainnya, dalam sekali install sudah bisa mencakup semua kebutuhan, seperti opening system (pembukaan system), office, aplikasi dan lain-lain,” ujarnya kepada Portal Tazkia ketika ditemui di ruang kerjanya Gedung Abu Yusuf,  Selasa 09/09/08.

Untuk mengatasi kesulitan adaptasi user terhadap software baru ini, pihak Labkom berinisiasi untuk mengadakan pelatihan pengenalan dan cara operasional sederhana Open Source setelah lebaran. Kendati demikian, tidak semua mahasiswa bisa ikut. Pihaknya hanya akan mengikutsertakan Staf STEI Tazkia dan beberapa utusan mahasiswa jurusan dan organisasi.


(lagi…)

September 17, 2008 at 4:43 am Tinggalkan komentar

Gontor Jadi Ikon Ekonomi Berbasis Pesantren

Ponorogo- Sebagai pesantern modern terbesar di Indonesia, Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Gontor diharapkan dapat menjadi pusat ekonomi berbasis pesantren. Jumlah cabang dan pesantren Alumni Gontor yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi credit point bagi Gontor untuk menjadi pioner kebangkitan ekonomi syariah di pesantren. Itulah yang terekam dari kunjungan silaturahim manajemen STEI Tazkia ke Pondok modern Gontor  pada 20-21/08/08 lalu, yang diterima langsung oleh Trimurti, yaitu KH. Syukri Zarkasy, KH. Hasan Abdullah Sahal, dan KH. Syamsul Hadi Abdan.

Ketua Humas STEI Tazkia, Miftahussurur mengatakan, selain untuk sosialisasi ekonomi syariah, kunjungan ini dimaksudkan untuk menawarkan program pengabdian dari Gontor ke STEI Tazkia. Rencananya, para santri Gontor yang sedang menjalani pengabdian di STEI Tazkia akan difungsikan sebagai pembina asrama pada pusat Matrikulasi.

“Kami juga menawarkan program beasiswa utusan pesantren ke Gontor. Harapannya, mereka yang sudah belajar di STEI Tazkia bisa kembali lagi ke Gontor dan menjadi tulang punggung perjalanan  ekonomi syariah di pesantrennya.” ujarnya seraya mengatakan bahwa untuk tahun ini ada 4 santri Gontor penerima beasiswa utusan pesantren.

(lagi…)

September 17, 2008 at 4:40 am Tinggalkan komentar

Mahasiswa Matrikulasi Ikuti Smash

Jakarta- Menghafal Asmaul Husna ribet? Kata siapa? Jika anda mengikuti training metode menghafal cepat asmaul husna ala Super Memory Asmaul Husna (SMAsH), persepsi itu tidak akan pernah terbukti. Dalam rentang waktu tidak lebih dari 3 jam, anda sudah bisa menghafal plus maknanya. Nah dalam rangka itulah, Minggu 14/09/08 sekitar 160 mahasiswa baru STEI Tazkia mengikuti SMAsH di Gedung LIPI Pancoran Jakarta Selatan,

Acara yang berlangsung selama satu hari penuh itu dipandu langsung oleh Pimpinan Smash, Sutisnawan. Dalam peparannnya, Sutisnawan mengatakan pelatihan SMAsH didesain untuk menampilkan metode yang mudah dan ringan, sehingga peserta mampu menghapal dan mengerti arti Asma-asma Allah (nama-nama terbaik dan terindah Allah SWT) dalam waktu tidak lebih dari 3,5 jam. Selanjutnya pada sesi sore hari, peserta mendapatkan pelatihan metode memahami makna beberapa Asma Allah. ”Dengan pelatihan tersebut, diharapkan para peserta mengenal jati diri mereka sebagai hamba Allah. Juga memahami betapa Mahamulia, Mahaagung dan Maha Pemurahnya Sang Pemilik 99 Asmaul Husna,” papar Sutisnawan.

Ia menambahkan, memahami dan mengamalkan Asmaul Husna merupakan hal yang penuh keutamaan. ”Apabila mayoritas umat Muslim mampu mengaplikasikan Asma-asma Allah dalam kehidupan sehari-hari, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan selamat dari keterpurukan moral yang lebih parah lagi,” tandas Sutisnawan. (lagi…)

September 17, 2008 at 4:29 am Tinggalkan komentar

Akademik Segera Terapkan KRS Online

Gilang Kencana- Untuk memberikan kemudahan administrasi akademik dan efektifitas proses perkuliahan, bagian Akademik STEI Tazkia akan menerapkan sistem pengisian Kartu Rencana Semester (KRS) secara online. Rencananya sistem baru ini akan resmi diberlakukan mulai semester depan.

Kepala Bidang Akademik STEI Tazkia, Andang Heryahya mengatakan saat ini KRS online masih dalam tahap sosialisasi, belum sampai pada level kebijakan. Mahasiswa yang mengisi KRS lewat internet masih harus melakukan pengisian KRS secara manual. “Mulai semester depan, baru kita resmi memberlakukan sistem KRS online sehingga mahasiswa bisa mengisi KRS dari mana saja tanpa harus datang ke kampus.” ujarnya kepada wartawan Portal Tazkia ketika ditemui di ruang Akademik Rabu 10/09/08.

Dalam catatan Andang, selama ini pengisian KRS manual kurang berjalan optimal. Mahasiswa yang dari luar daerah kerap enggan datang ke kampus hanya untuk mengisi KRS. Akibatnya kenyamanan proses belajar mengajar terganggu. Padahal menurutnya, pengisian KRS tepat waktu merupakan salah satu faktor penentu kualitas akademik mahasiswa. Dalam tataran ideal, mahasiswa sudah harus mengisi KRS 1 minggu sebelum perkuliahan.

“Jika KRS dilakukan sesuai ketetapan, akademik akan berusaha membuat jadwal dengan baik sehingga tidak ada perubahan kelas. Ketidakdisiplinan pengisian KRS membuat kelas sering berubah jadwal yang berpengaruh pada kenyamanan belajar. Ketika proses belajar tidak nyaman, mahasiswa tidak fokus, pelajaran tidak dapat diserap dengan baik sehingga kualitas pendidikan kurang baik.” papar Mantan Ketua HMI UNJ ini berlogika.

Saat ini pihak akademik masih mengkaji masalah yang timbul dari implementasi sistem KRS online ini. Seperti bagaimana mensinkronkan kebijakan ini dengan bagian keuangan. “Kita juga lagi memikirkan print-out KRS. Apakah kita sediakan atau mahasiswa harus print-out sendiri-sendiri.” kata Andang.

Lebih lanjut Andang megatakan, kendati sudah ada sistem KRS online, proses bimbingan dan konsultasi dengan dosen wali dan Ketua Program Studi (KPS) tetap harus dilakukan dengan tatap muka. Sebab menurutnya, dalam konteks ini tekhnologi tidak bisa menggantikan peran manusia.

Andang menambahkan, sebenarnya mahasiswa punya hak untuk mendapatkan bimbingan akademik dan non akademik dari dosen wali minimal 3x dalam setiap semester. “Untuk itu, mahasiswa dan dosen wali mesti bekerjasama sehingga bimbingan berjalan dengan baik. Jika mahasiswa tidak bisa aktif, dosen wali sejatinya proaktif menanyakan dan memberikan bimbingan tanpa harus diminta.” terang Andang.

(lagi…)

September 17, 2008 at 4:28 am Tinggalkan komentar

Matrikulasi Perketat Program Bahasa

Gilang Kencana- Pembina Asrama pada Pusat Matrikulasi STEI Tazkia, Dodi Yarli bertekad mengefektifkan sistem dan implemetansi program bahasa Arab yang sudah berjalan mulai Senin, 8/09/08. Program yang akan berlangsung 2 bulan ke depan ini akan diisi dengan pengajaran dan pembinaan bahasa arab secara intensif di kelas-kelas. Tidak hanya itu, untuk lebih memberikan bimbingan secara terpadu, pihak matrikulasi akan menfungsikan ketua kamar dalam penyediaan mufradat (kosa kata arab).

“Kita akan sediakan papan di setiap kamar untuk mufradat-mufradat tertentu yang harus diisi oleh ketua kamar setiap saat.” ujarnya kepada Portal Tazkia, Senin Malam 25/09/08.

Alumni Al-Azhar University ini menambahkan, untuk lebih meyakinkan sistem ini bisa berjalan dengan baik, pihak matrik juga akan menfungsikan pengurus Badan Independen Mahasiswa (BIM) untuk membantu ketua kamar dalam melakukan kontrol dan hafalan mufradat.

(lagi…)

September 17, 2008 at 4:26 am Tinggalkan komentar

Bahaya Riba

Secara bahasa, riba bermakna peningkatan, penambahan atau pertumbuhan. Dalam terminologi kontemporer dikenal dengan istilah bunga. Para fuqaha mendefinisikan riba sebagai bentuk penambahan pada harta benda tertentu atau kelebihan harta tertentu dalam akad mu’awadhah (pertukaran) yang tidak disertai kompensasi (‘iwadh).

Para ulama fiqh sepakat bahwa hukum riba adalah haram dengan berdasarkan larangan yang sangat jelas baik dari Alquran maupun hadits. Larangan riba dalam Alquran terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 275, 276, 278, dan 279. Dalam ayat 275, Allah swt berfirman: “orang-orang yang yang memakan (memungut) riba ridak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan syaitan lantaran gangguan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata: ‘sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,’ Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (al-Baqarah: 275). Di depan para sahabatnya, tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, Rasulullah menyampaikan khotbah. Di antara poin penting pidato Rasul saat itu adalah peringatan untuk senantiasa menghindari riba. “Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanmu, dan Dia pasti akan menghitung amalanmu. Allah telah melarang kamu mengambil riba, oleh karena itu hutang akibat riba harus di-hapuskan. Modal (uang pokok) kamu adalah hak kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami ketidakadilan.”

Syariat Allah ditetapkan untuk mewujudkan maslahat bagi manusia. Dengan demikian, setiap hal yang dapat menghambat atau merusak terwujudnya maslahat, agama melarangnya. Begitulah, riba diharamkan karena dapat meluluhtakkan sendi-sendi perekonomian sebuah bangsa. Karena besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh Riba, Rasulullah melaknat semua pihak yang terkait dengan praktik riba. Dari Jabir ra beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. (HR. Muslim dan Ahmad)

Dalam pandangan Ifran Syauqi Beik, dampak negatif riba diantaranya akan mencegah terjadinya kondisi full employment (pekerja penuh). Institusi riba (baca: bunga) akan membentuk komponen biaya produksi tersendiri. Akibatnya adalah terjadi peningkatan pada struktur harga, yang berimplikasi pada penurunan daya beli masyarakat. Turunnya daya beli ini akan menyebabkan terjadinya penurunan tingkat konsumsi masyarakat, investasi, dan lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, riba (bunga) akan “memiskinkan” masyarakat. Bunga adalah institusi yang menyebabkan tingginya konsentrasi ekonomi di kalangan golongan “the have”. Dalam kegiatan perekonomian kapitalis, bunga dibebankan kepada konsumen sebagai bagian dari harga barang yang dikonsumsi. Selanjutnya, pendapatan bunga ini akan mengalir kepada kaum kapitalis pemegang modal, baik secara langsung maupun melalui institusi perbankan. Sehingga dalam sistem ini, akan terjadi aliran kekayaan dari masyarakat banyak kepada segelintir orang saja. Semoga kita semua diselamatkan dari bahaya riba.

September 1, 2008 at 6:03 am Tinggalkan komentar

Merdeka Dari Nafsu

”Sejak kapan kamu memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merdeka.” Ucapan populer Khalifah Umar bin Khathab kepada Umar bin Ash ini menunjukkan keberpihakan Islam terhadap hak kemerdekaan manusia dari semua aspek.

Namun, Islam memandang kemerdekaan manusia bukan kebebasan tanpa batas. Kemerdekaan sejati dalam Islam adalah ketundukan total kepada kuasa Ilahi dan melepaskan diri dari jeratan nafsu. Ketika seorang Muslim terbebas dari seluruh belenggu setan dan hawa nafsu, lalu mengembalikan seluruhnya kepada aturan Allah, di sanalah ia sebenarnya mendapatkan kemerdekaannya.

Kemerdekaan seperti itulah yang akan melahirkan kekuatan mahadahsyat. Dengan kemerdekaan seperti ini, dua imperium besar, Persia dan Romawi, ditundukkan di awal sejarah Islam. Ketika perang Qadisiyah, Sa’ad bin Abi Waqqash memerintahkan Rabi’ bin Amir untuk menghadap Rustum, panglima perang Persia. Rustum bertanya kepada Rabi’ tentang tujuan kedatangan pasukan Islam ke wilayahnya.

Dengan lantang Rabi’ menjawab dan jawabannya itu dicatat dengan tinta emas oleh sejarah. ”Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya kepada penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa dan Perkasa. Dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas serta dari kesewenang-wenangan agama kepada keadilan Islam.”

Rasulullah SAW mengatakan, musuh yang paling besar dan berat untuk dihadapi adalah melawan hawa nafsu. Ketika Rasulullah kembali dari salah satu peperangannya, beliau bersabda: ”Kalian telah tampil ke depan dengan cara terbaik. Untuk tampil ke depan, kalian telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Mereka bertanya, ”Dan, apakah jihad yang lebih besar itu?” Nabi Muhammad SAW menjawab, ”Perjuangan (  mujahadat) hamba-hamba Allah atas hawa nafsu mereka.”

Orang yang mengikuti nafsu sebenarnya bukan hamba Allah, tetapi budak nafsu. Sebab, tidak mungkin seseorang melayani dua majikan. Dengan demikian, pembebasan diri dari perbudakan nafsu adalah kemenangan dan kemerdekaan terbesar.

Jika konsep kemerdekaan seperti ini terpatri dalam jiwa umat Islam, tidak akan ada lagi bentuk-bentuk penjajahan implisit yang kulitnya menawarkan kemakmuran. Padahal, sejatinya menghancurkan sisi kemanusiaan seseorang. Wallahu a’lam bish shawab.

Agustus 30, 2008 at 2:19 pm Tinggalkan komentar

Zakat dan Kepedulian Sosial

Oleh: M. Mahbubi Ali

Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan
seorang hamba dengan Tuhannya (hablum minallah) tetapi
juga memperhatikan hubungan sosial (hablum
minan-naas). Salah satu bentuk kepedulian Islam
terhadap hubungan sesama manusia adalah ditetapkannya
aturan zakat.
Dalam Islam, zakat memiliki posisi yang sangat urgen.
Ia tidak saja sebagai ibadah vertikal kepada Allah,
tetapi juga berfungsi sebagai ibadah sosial dalam
rangka mengharmoniskan hubungan horizontal. Zakat
adalah perintah yang di dalamnya terkandung semangat
kesejahteraan dan keadilan dalam kehidupan sosial.
Alquran senantiasa mensejajarkan kata salat dan zakat.
Sekitar 27 ayat menjelaskan tentang kewajiban shalat
dan zakat disebut secara berurutan. (Yusuf
Qardhawi;1973). Kedua perintah itu, dalam Alquran
selalu memperlihatkan dirinya sebagai “inti” dari
seluruh ajaran Islam. Sedangkan Rasulullah meletakkan
shalat dan zakat sebagai pilar Islam setelah pengakuan
keesaan Tuhan. (lagi…)

Agustus 13, 2008 at 5:36 am Tinggalkan komentar

MAKNA ISTIKAMAH

Secara bahasa, istikamah di ambil dari akar kata istaqama yang artinya lurus, teguh dan konsisten. Secara terminologis, terdapat beragam pandangan dalam mendefinikan istikamah. Sebagian ulama mengatakan, istikamah adalah konsistensi seseorang menempuh jalan yang sesuai dengan ajaran agama. Menurut Umar bin Khaththab Istikamah adalah menegakkan perintah, menjauhi larangan dan tidak berjalan ke sana ke mari seperti seriga yang mondar-mandir. Sementara Abu Bakar ra ketika ditanya tentang hal ini beliau menjawab, Istikamah adalah tidak menyekutukan Allah swt. Ulama tasawaf mengartikan istikamah sebagai sikap konsistensi terhadap terhadap pengakuan iman dan islam, mengabdikan diri kepada Allah dengan penuh ketulusan.

Menurut ahli makrifat, pada dasarnya semua pemaknaan tentang Istikamah bermuara pada dua hal; iman kepada Allah, dan mengikuti risalah yang dibawa Rasulullah saw.

Istikamah dikelompokkan dalam tiga hal, istikamah dengan lisan, dengan hati, dan dengan jiwa. Istikamah dengan lisan adalah mengikrarkan kalimat syahadat (penyaksian akan ketuhanan Allah) secara kontinue. Istikamah dengan hati adalah senantiasa memperbaiki niat dan kehendak. Sementara istikamah dengan jiwa adalah senantiasa melakukan ibadah dan kepatuhan.

Sebagian ahli sufi menyatakan, tanda-tanda orang yang istikamah ada empat. Yaitu mentaati semua perintah Allah, takwa (takut) melakukan larangan, bersyukur terhadap nikmat, dan bersabar dalam usaha mencapai surga. http://mujadid83.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce-242/plugins/wordpress/img/trans.gif (lagi…)

Agustus 13, 2008 at 5:35 am Tinggalkan komentar

Indahnya Silaturahmi

Sebagai agama rahmat, Islam sangat mencintai kedamaian dan membenci permusuhan. Islam memiliki kepentingan untuk menciptakan suasana hidup yang Islami, tenang, damai, dan rukun. Untuk mencapai tujuan tersebut Islam menetapkan aturan zakat, menganjurkan shadaqah, saling memberi, saling membantu dan menghargai antar sesama, sehingga tercipta budaya silaturahmi.

silaturahmi adalah ibadah yang paling indah, kepatuhan yang paling luhur, dan aktifitas yang amat banyak memiliki manfaat, di dunia maupun di akhirat. Ia adalah kebutuhan manusia yang bersifat fitri dan menjadi keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat, sebab sebagai makhluk sosial (zoon politicon), manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada saling keterikatan dan saling membutuhkan di antara satu dengan yang lain. Dengan silaturahmi akan tercita kerukunan, kedamaian, kasih sayang, dan cinta. Begitu urgennya silaturahmi sampai-sampai kata tersebut diambil dari nama Allah swt, yaitu Al-Rahiem. Dari Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: Allah swt berfirman, “Aku adalah Allah, Aku adalah Dzat yang maha pengasih. Aku ciptakan rahim. Aku ambilkan kata itu dari namaku. Siapa yang membina hubungan dengan sanak famili (silaturahmi) aku akan menyambungkan ia dengan namaku. Dan siapa yang memutusnya, aku juga akan memutuskan hubungan dengannya.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). (lagi…)

Agustus 13, 2008 at 5:34 am Tinggalkan komentar

Tulisan Lebih Lama


Kategori

  • Blogroll

  • Feed


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.